Home / Ekonomi / Panen Raya Padi Harga Murah Karena Impor, Petani Zaman Now

Panen Raya Padi Harga Murah Karena Impor, Petani Zaman Now

Bisnis Syariah Petani ku sayang, petani ku malang ungkapan yang mewakili kondisi para petani Indonesia saat ini.

Gara-gara rencana impor beras, harga gabah hasil petani dalam negeri mulai anjlok. Para petani pun waswas harga gabah akan semakin tertekan saat beras impor dari Vietnam dan Thailand datang. Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo miris melihat ini. Pentolan Gerindra ini menuntut Pemerintah bertanggung jawab.

“Kalau harga beras di petani pada saat panen raya anjlok, Pemerintah harus tanggung jawab itu. Sebab, anjloknya harga tersebut karena ada impor,” tegas Edhy di Jakarta, kemarin.

Edhy menegaskan, sejak awal, pihaknya sudah menolak tegas kebijakan impor beras yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan. Menurut dia, tidak ada alasan yang mendukung untuk mendatangkan beras dari luar. Daerah-daerah tengah menghadapi panen raya mulai akhir Januari. Kemudian, pada Februari dan Maret akan ada puncak panen raya.

Dia yakin, dengan panen yang saat ini terjadi, stok beras nasional akan aman. Kenaikan harga beras yang sempat terjadi di awal Januari kemarin juga bakal turun secara perlahan.

“Berdasarkan penjelasan Menteri Pertanian, impor beras itu be­lum diperlukan. Sebab, cadangan beras bulan Januari, Februari, dan Maret itu dihitung akan ada 20,7 juta ton beras. Itu hasil panen rakyat kita,” jelasnya.

Makanya, Edhy heran mengapa Menteri Perdagangan begitu ngotot mau mengimpor. Terlebih, setahunya, rencana impor tersebut belum mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian, sebagai otoritas pangan nasional. Apabila tetap dilakukan impor, hal itu bertentangan dengan Nomor UU18/2012 tentang Pangan.

Yel-yel Petani

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus berkeliling untuk melakukan panen raya dan menemui para petani. Kemarin, Amran dan rombongan berkunjung ke Sragen, Jawa Tengah. Kedatangan Amran ini disambut yel-yel penolakan impor beras dari para petani yang hadir.

“Petani, kerja-kerja-kerja. Tolak impor, yes. Petani, kerja-kerja-kerja. Tolak impor, yes. Tolak impor, yes,” begitu teriakan mereka.

Iwan, petani Desa Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen yakin betul pihaknya bisa memasok beras dalam jumlah besar. Para petani di daerahnya menanam padi varietas ciherang yang umur tanamnya 90 hari. Produktivitasnya mencapai 8,4 ton per hektar. Hasil panen sangat melimpah. Sayangnya, harga mulai turun.

“Ini panen 8,4 ton per hektar Pak. Ini hamparan panen sangat luas. Harga sebelumnya Rp 5.400, tapi sekarang tengkulak mulai nawar. Harga turun, Pak,” keluhnya di hadapan Amran.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno menyebut, daerahnya merupakan penyangga beras Jawa Tengah. Hasil pertanian di daerahnya bagus. Karenanya, para petani di Sragen sangat sedih dengan rencana impor beras. “Jadi, Pak Menteri, warga Sragen di sini menolak impor,” tegasnya.

Mendengar keluhan ini, Amran menjawab bahwa dirinya adalah pelayan masyarakat. Dia pun berjanji tidak akan membiarkan petani disakiti. Sebagai buktinya, dua tahun ini, yakni 2016 dan 2017, Indonesia bisa swasembada beras. Pihaknya akan terus berusaha mengangkat beras dan hasil produksi petani lainnya.

Amran merasakan bagaimana terpukulnya petani dengan impor ini. “Jadi, wajar ada yang ribut karena merasa sulit. Aku pasti­kan, tidak akan biarkan petani kita dizalimi. Jangankan buat petani, diriku pun aku serahkan,” tegas dia seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (25/1).[rik]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *