Home / Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia / Pelukan Kemanusiaan Khoirizi, Talenta Filantropi Putra Guru Mengaji

Pelukan Kemanusiaan Khoirizi, Talenta Filantropi Putra Guru Mengaji

Pelukan Kemanusiaan Khoirizi, Talenta Filantropi Putra Guru MengajiBogor, Bisnis Syariah – Ketika air mata mengering, ketika luka masih membekas, disaat batu nisan pun masih jelas bertuliskan nama pada 2004 lalu kini kita dihadapkan pada kejadian yang sama pada 2018, Palu dan sekitarnya digoncang gempa berkekuatan 7,4 SR, sebelumnya Lombok dengan 6,5 SR. Terparah adalah Aceh pada 2004 dihantam gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 Skala Richter.

Ratusan ribu nyawa hilang di Aceh, ratusan nyawa lepas dari raganya di Lombok dan ribuan orang meregang nyawa di Palu dan sekitarnya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kehidupan didepan kita adalah rahasia Maha Kuasa, untung maupun malang sering datang tiba-tiba tanpa disangka.

Anak-anak mesti rela terpisah dari keluarganya, keluarga harus tabah dengan kematian tragis sanak, saudara, handai tolan, sahabat dilipat kekuatan alam. Habis harta, punah benda, sirna kesahwatan dunia. Bagai kematian yang tertunda.

Bukan Khoirizi namanya, jika tak mengimprovisasi susana sepi menjadi riang, atau tegang menjadi melo. Sosok yang tak asing dikalangan pegiat haji nasional dengan talentanya yang terbilang unik.

Hari itu, di Aula Asrama Haji Transit Palu, Selasa (18/12/2018) ia mengguncang hati dan sanubari kisaran 250 peserta yang hadir dalam gelaran Jagong Masalah Umah dan Haji (Jamarah). Ditengah keseriusannya menyampaikan perhajian, tiba-tiba ia mengundang salah satu pegawai haji Kemenag Sulawesi Utara Sarbani ke atas panggung. Sarbani adalah satu diantara korban likuifaksi.

Seluruh harta bendanya termasuk rumahnya amblas dihisap lumpur saat bencana gempa di Palu. Tak banyak berbicara, namun mata Direktur Bina Haji memancarkan kasih yang mendalam manakala Sarbini mendekati dirinya. Dia peluk Sarbani sembari menjelaskan duka Sarbani kepada peserta.

Tak selesai sampai disitu, tangan filantropi Khoirizi semakin menambah haru suasana. Amplop berisi uang jutaan rupiah hasil keringat mengajar ia berikan dengan tulus kepada Sarbini sebagai wujud merasakan nestapa bencana.

“Yang sabar ya, pasti ada hikmah di balik semua itu. Ketika kita mensyukuri itu, Insya Allah mengangkat derajat kita ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” ucapnya pada Sarbani. Usaikah talenta Khoirizi kala itu? Ternyata belum. Kejutan berikut dari putra seorang guru mengaji ini adalah saat dia mengeluarkan sepotong kemeja batik lengan panjang dari dalam tas ransel miliknya. Semula, peserta yang berhadir tak akan menyangka kalau Direktur Bina Haji itu akan melelang batik kesayayangannya.

Bagai seorang Praeco, orang yang mengumumkan dan sekaligus mempromosikan barang lelang di zaman Romawi, Khoirizi memulai aksi kemanusiaannya. Dibuka dengan harga 200 ribu rupiah hingga akhirnya batik kesayangannya itu dibeli dengan harga 10 juta rupiah oleh salah satu peserta.

Suasana riuh lelang yang saling bersahutan terhenti dan berubah menjadi tangis haru para peserta Jamarah. Talenta kemanusiaan Khoirizi mampu membangun satu ide spontan hingga semua yang hadir memahami kemana akhir dari pertunjukan tanpa skenario itu.

Semua tahu bahwa Khoirizi sedang mengajak dan sekaligus mengingatkan para pegiat haji akan pentingnya zikir sosial, membantu dan meringankan beban orag yang sedang dilanda musibah khususnya untuk kedua anak almarhumah, mantan petugas haji dari Kloter BPN 8.

“Kapan lagi memberi kepada anak piatu. Mumpung masih diberi kesempatan berbuat baik, mari kita bersama-sama berbuat baik,” himbau Khoirizi pada para peserta yang hadir. (Affan Rangkuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *