Home / Nasional / Haji & Umrah / Zikir Kerja Lelaki Paruh Baya si Pelayan Haji

Zikir Kerja Lelaki Paruh Baya si Pelayan Haji

Zikir Kerja Lelaki Paruh Baya si Pelayan Haji
Direktur Bina Haji, Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Khoirizi H. Dasir (berbatik coklat) sedang berbincang dengan Pengurus Besar Ormas Islam Al Wasliyah, Affan Rangkuti (berkemeja hitam).

Jakarta, Bisnis Syariah – Membaca aksi kerja Tim Mobile Crisis dan Rescue (MCR) dari kulikan media masa mendalam bukanlah suatu istilah latah akan redaksional. Tidak juga sebagai gagah-gagahan mencari simpatik dan sensasi. Konseptual ini lahir dengan pemikiran yang mendalam, proses panjang mencari solusi terbaik dalam pelayanan haji di fase Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna).

Fase kritis, ini menjadi titik yang menegangkan. Banyak bayang menghantui bagaimana kisah pilu kelam di situasi itu terjadi, dari kebakaran, kelaparan, berdesakan. Kisah tragis yang menjadi catatan sedih, dunia pun menagis dan berdoa untuk para sahid dalam perjalanan ibadah suci yang kolosal ini.

Fase Armuzna adalah fase berkumpulnya jutaan umat Islam. Apakah sebagai haji maupun sebagai pelayan. Pemerintah Saudi melalui Pusat Komunikasi Internasional terayar merilis data penyelenggaraan Haji 2018. Total jemaah haji dari seluruh dunia yang datang ke Tanah Suci tercatat 2.371.675 orang. Angka itu terdiri dari 612.953 jemaah Saudi dan 1.758.711 jemaah non-Saudi. Untuk kategori jenis kelamin, terdiri dari 1.327.127 jemaah laki-laki dan 1.044.548 jemaah perempuan.

Dua juta lebih para tamu Allah Swt berkumpul dari berbagai negara, dari berbagai usia, warna kulit, bahasa, jenis kelamin dan status sosial lainnya. Berkumpul dan bergerak bersama dalam satu tempat, satu waktu dan satu arah dan tujuan Armuzna. Tak banyak waktu, lelah pasti. Perjalanan yang menguras energi, apalagi geografi Armuzna yang anomali dengan jemaah haji Indonesia.

Meleng sedikit saja dalam melayani, pertaruhannya sangat besar sekali. Tak surut melangkah, bertadabur dan bertafakur memohon pencerahan Allah Swt untuk mengurai dan memberi jalan keluar dari sederet peristiwa yang pernah terjadi.

Dimana ada kemauan, tentu di situ ada jalan. Para pimpinan elit haji di Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya menemukan jalan itu, jalan untuk lebih memberikan pelayanan di fase yang mendebarkan. Jalan pelayanan di fase Armuzna itu dinamakan Tim Mobile Crisis dan Rescue (MCR).

Nama yang dipengaruhi hasil pemikiran salah seorang elit haji manakala membesut satuan kerja khusus Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji (P3JH). Ia adalah Khoirizi Dasir, Direktur Bina Haji di Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Pria yang lahir di Lubuk Linggau, bumi masyur Sriwijaya negeri yang gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika di zamannya. Lelaki paruh baya inilah yang menggagas, menginisiasi dan sekaligus mewujudkan P3JH yang melebur dan mendominisasi dalam satuan tugas MCR.

Tim ini beranggotakan 233 orang. Tujuan, bertugas memberikan pengamanan dan pertolongan pertama bagi jemaah yang membutuhkan. Selain P3JH ada juga TGC (Tim Gerak Cepat), TPP (Tim Promotif Preventif), Perlindungan Jemaah, MCH (Media Center Haji). Satuan tugas menyebar di Arafah, 11 pos pun dibentuk. Masing-masing pos beranggotakan lebih kurang 7 orang.

Tim juga menyebar di Mina atas (Kantor Misi Haji Mina-Jamarat) jalur keberangkatan jemaah yang akan melontar jumrah. Jalur ini diidentifikasikan sebagai rute jemaah dari maktab di Mina sampai dengan jamarat, dibentuk 5 pos. Masing-masing pos beranggotakan lebih kurang 5  orang.

Selain menyebar di Mina atas, juga menyebar di Mina bawah (Muaisyim-Syisyah), dari Jamarat ke Mina al wadi atau jalur kembali ke maktab Mina, juga membentuk 5 pos. Masing-masing pos beranggotakan lebih kurang 5  orang.

Sepenggal Doa dan Harapan

Taklah mahir ia menulis dalam untaian kata-kata yang memukau. Pun begitu, ada struktur cara berfikirnya untuk melayani jemaah haji di sisa pengabdiannya bagi bangsa dan negara yang tak lebih dari tiga tahun mendatang. Dalam harapan itu ia tuliskan kenyamanan hati atas terijabahnya doa-doa yang dipanjatkan di setiap salatnya.

“Berbagai persoalan yang dihadapi jemaah dan petugas di sekitar jamarat khususnya pada tanggal 10 Zulhijjah tahun ini paling tidak terobati dengan dibentumnya Tim Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji (P3JH) oleh Kemenag, tidak sedikit jemaah yang kelelahan sepanjang jalur Mina sampai dengan jamarat dapat dilayani oleh para pejuang-pejuang Duyufurrahman ini. Tim yang semula sangat pesimis akhirnya percaya diri menjawab tantangan dan keluhan yang dihadapi jemaah dan pemerhati. Tim yang menjadi salah satu konsen pimpinan, khususnya Panitia Haji. Alhamdulillah tahun ini terobati oleh P3JH, ibarat setes air di gurun pasir. Mudah-mudahan ke depan ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita untuk lebih memberdayakan tugas dan fungsi tim ini sehingga dapat lebih bermanfaat dalam memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan. Bahkan tidak saja bagi jemaah Indonesia namun bagi jemaah negara lain,” doa Khoirizi.

Tercatat dan terjawab sudah apa yang engkau panjatkan melalui zikir kerja. Bagian inovasi dan kerja nyatamu mampu mendongkrak laju kepuasan jemaah hingga 85.23, rekor tertinggi sejak 123 tahun yang lalu (1895-2018). Melaju bertahap berkelanjutan dengan sumbangsih pemikiran dan gagasan besar yang segera akan engkau gulirkan tahun mendatang melalui revitalisasi pelayanan dan program di bina haji dan diyakini akan berkembang dan meluas untuk diterapkan pada musim haji masa mendatang. Teruslah berkarya Pak Direktur, Ustaz Khoirizi. Seluruh elit dan pegiat haji di kabupaten kota se-Indonesia siap menunggu arahanmu lebih lanjut dalam pembinaan haji. (Affan Rangkuti)