Home / Ekonomi / Kemiskinan Global dan Mahar Pelipur Lara

Kemiskinan Global dan Mahar Pelipur Lara

Oleh: Yudhiarma MK, M.Si

Menghayati gema takbir Idul Fitri, tentu membuat banyak Muslim berurai air mata. Memasuki pekan pertama bulan Syawal, selain rasa haru berpisah dengan Ramadhan, amanat menunaikan zakat fitrah sebagai prasyarat mencapai kemenangan setelah sebulan berpuasa, belum cukup untuk mengobati duka orang-orang yang lapar dan dahaga: mereka yang masih larut dalam kefakiran dan kemiskinan.

“Paket makanan pokok Lebaran” yang wajib ditunaikan itu, baru sekadar penanda kebersamaan dan kepeduliaan pada masyarakat dhuafa dalam suka cita Hari Raya.

Bagi umat Islam, masih ada keharusan mengimplementasikan zakat mal sebagai bagian dari perjuangan mengangkat derajat mustahik menjadi muzaki, mengubah nasib kaum papa menjadi berpunya dan berdaya.

Namun sungguh ironis, menurut data Bank Dunia, kini kekayaan sejumlah orang melonjak karena revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital (Republika, 24/1/2019).

Badan amal internasional Oxfam melaporkan, ada peningkatan kesenjangan (rasio gini) kelompok kaya dan miskin global.

Oxfam mencatat, 26 konglomerat sejagat memiliki harta setara dengan kebutuhan separuh penduduk paling miskin (fakir) dunia. Kekayaan para triliuner ini tumbuh 2,5 miliar dolar AS per hari pada 2018.

Sebut saja CEO Amazon, Jeff Bezos, yang mengalami kenaikan kekayaan menjadi 112 miliar dolar AS pada tahun lalu. Satu persen hartanya sama dengan seluruh anggaran kesehatan Ethiopia, negara berpenduduk 105 juta jiwa.

Meski World Bank mengeluarkan data penurunan, tetapi tingkat kemiskinan global kini masih mencapai 10 persen dari populasi dunia (Republika, 19/9/2018).

Dilansir AP, penduduk disebut miskin jika hidup dengan kurang dari 1,90 dolar AS per hari. Penurunan 10 persen dari tahun 2015 dan turun 11,2 persen dari tahun 2013. Ini berarti 735,9 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan pada 2015, turun 68,3 juta dari 804,2 juta dua tahun sebelumnya.

Namun, Bank Dunia memperingatkan bahwa laju pengurangan kemiskinan telah melambat. Ini membahayakan tujuan mengurangi tingkat kemiskinan menjadi tiga persen pada tahun 2030.

Kemiskinan menurun secara hampir menyeluruh di banyak negara, kecuali Timur Tengah dan Afrika Utara yang masih dilanda konflik. Tingkat kemiskinan di dua wilayah itu naik menjadi 5 persen pada 2015 dari sebelumnya 2,6 persen pada 2013. Jumlah orang miskin di dua wilayah tersebut tercatat meningkat menjadi 18,6 juta jiwa dari sebelumnya 9,5 juta jiwa.

Meski demikian, ada pelajaran berharga dari orang-orang terkaya di dunia dalam merespon fenomena ini, selain gerakan antikelaparan _(no hungry)_ yang menjadi salah satu poin Sustainable Development Goals (SDGs) yang digagas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Simak saja Ikrar Sedekah (Giving Pledge) yang digaungkan pemilik Microsoft, Bill Gates pada 2010. Ia mampu menggalang dana sangat besar dan mengajak para taipan raksasa seperti Warren Buffett, Mark Zuckerberg, Michael Bloomberg, Pangeran Alwaleed bin Talal, dan sebagainya, untuk ramai-ramai menjadi filantropis.

Namun setelah dana terkumpul sampai jutaan dolar AS dari sekira 154 pengusaha dari 16 negara termasuk satu dari Indonesia, kini belum jelas untuk apa dan ke mana fulus itu akan disalurkan.

Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh gebrakan sosial pesepak bola populer Jerman keturunan Turki, Mesut Ozil.

Pemain bintang klub Arsenal dan mantan anggota timnas Jerman ini, melangsungkan pernikahan dengan sang tunangan, “Miss Turkey” Amine Gulse, dua hari pasca Lebaran 1440 H, Jumat, 7 Juni 2019.

Resepsi mereka berlangsung di Hotel Four Seasons di tepi Selat Bosphorus, Istanbul.

Perhelatan yang mengundang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beserta istri sebagai pendamping ini, seolah-olah menjadikan bantuan kemanusiaan untuk ribuan anak dhuafa sebagai “mahar” perkawinan mereka.

Diwartakan oleh laman _sportbible.com_, Ozil merayakan pernikahan dengan melakukan kegiatan amal dengan membiayai operasi 1.000 anak dari keluarga tak mampu.

Mesut memang telah menjadi pendukung organisasi filantropi BigShoe yang bekerja sama dengan para dokter di Jerman dan Swiss.

Lembaga tersebut mengadakan program operasi bagi anak-anak yang membutuhkan di seluruh dunia.

Kolaborasi Ozil dan BigShoe terjalin sejak Piala Dunia dan telah menjalankan tiga proyek berbeda di Brazil, Afrika dan Rusia.

Kegiatan ini diunggah di akun media sosial mereka di mana Ozil membuat pernyataan khusus. Ia mengajak masyarakat dunia untuk meningkatkan kepedulian dan saling berbagi dengan sesama.

Inilah keteladanan orang-orang kaya yang menjadi pelipur lara bagi kaum papa yang masih marak mewarnai dunia dengan duka dan nestapa.

Mari bersama-sama mendoakan agar tak hanya Ozil dan para pesepak bola sukses seperti Mohamed Salah, Cristiano Ronaldo serta Bill Gates dan kawan-kawan, tapi juga orang-orang kaya lainnya tergerak mendermakan harta mereka untuk kaum dhuafa. Hingga kepekaan sosial ini juga menular dan membahana ke seluruh penjuru Nusantara.

Semoga zakat fitrah yang disalurkan umat Islam pada Ramadhan lalu, berlanjut dengan kesadaran menunaikan zakat mal, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf) yang memiliki potensi lebih dari Rp 217 triliun.

Agar semakin banyak program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan yang mampu mengubah nasib mustahik menjadi muzaki: mendorong para _mustadhafin_ menjadi insan berpunya dan berdaya. Inilah solusi sesungguhnya. Bukan sekadar “mahar” pelipur lara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *